Hubungi IGD & Ambulance

Cari Dokter

HUBUNGI KAMI
Waspada Virus Pernapasan: HMPV
Waspada Virus Pernapasan: HMPV
dr. Anastasia Jennifer

Infeksi saluran pernapasan masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi di berbagai kelompok usia. Infeksi saluran pernapasan dapat disebabkan oleh baik bakteri maupun virus. Salah satu jenis virus yang dapat menyebabkan penyakit tersebut adalah Human Metapneumovirus atau HMPV. HMPV dapat menyebabkan gejala pernapasan yang menyerupai infeksi saluran napas atas. HMPV pertama kali ditemukan pada tahun 2001 di Belanda dan paling sering ditemukan pada anak-anak. Namun, virus ini juga dapat menyerang orang dewasa dan lansia.

 

HMPV ditularkan dari droplet yang keluar dari mulut atau hidung saat batuk, bersin, bahkan berbicara, dan bisa juga menular saat tidak sengaja menyentuh barang yang kemungkinan terdapat HMPV, kemudian melakukan gerakan menyentuh bagian tubuh dan wajah seperti mengucek mata atau menyentuh hidung. Masa inkubasi virus 3-5 hari dan berbeda-beda pada setiap individu. Artinya saat seseorang terpapar virus HMPV, seseorang tersebut tidak akan langsung merasakan gejala. Pada negara tropis, HMPV lebih banyak ditemukan saat musim hujan, sedangkan pada negara dengan empat musim, infeksi HMPV lebih banyak terjadi pada musim semi dan musim dingin.

 

Gejala HMPV dapat muncul menyerupai common cold atau selesma, seperti batuk, pilek atau hidung tersumbat, dan nyeri tenggorokan. Jika tidak ditangani langsung, virus HMPV dapat menyebar hingga ke saluran napas bawah dan menyebabkan gejala seperti sesak napas, suara mengi, dan demam. HMPV dapat menyebabkan pneumonia atau infeksi paru-paru. Pada seseorang yang memiliki kondisi penyakit paru seperti asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dapat menyebabkan kekambuhan atau perburukan dari penyakit yang sudah ada.

 

Sebagian besar kasus HMPV biasanya dapat dikenali hanya dari gejala dan pemeriksaan fisik, tanpa harus melakukan tes khusus. Meski begitu, ada beberapa jenis tes laboratorium yang bisa dilakukan untuk konfirmasi penyakit lebih lanjut, seperti tes polymerase chain reaction (PCR) menggunakan swab yang diambil dari hidung dan tenggorokan. Rontgen paru pada umumnya tidak dilakukan, kecuali jika ada kecurigaan terhadap infeksi paru.

 

Tidak ada pengobatan khusus untuk HMPV, karena sebagian besar kasus dapat sembuh dengan sendirinya. Diperbolehkan untuk minum obat seperti obat anti demam, obat batuk, dan obat pilek untuk mengurangi gejala-gejala awal. Pemberian oksigen umumnya diberikan pada pasien-pasien dengan saturasi oksigen yang menurun.

 

Pencegahan terhadap HMPV dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1.    Menggunakan masker saat bepergian, untuk menghindari penularan infeksi.

2.    Melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas atau melakukan kontak dengan orang atau benda lain.

3.    Hindari menyentuh bagian wajah tanpa melakukan cuci tangan.

4.    Menjaga kebersihan lingkungan

5.    Makan makanan bergizi seimbang, minum air putih yang cukup, dan lakukan aktivitas rutin.

6.    Hindari merokok.


Pemahaman terhadap HMPV, penanganan, dan pencegahannya merupakan upaya penting untuk mengurangi risiko penularan dan memperkuat kewaspadaan masyarakat tentang penyakit ini. HMPV sendiri umumnya memiliki peluang kesembuhan yang baik dengan terapi dan pencegahan yang baik. Umumnya, gejala infeksi HMPV lebih berat terjadi pada infeksi pertama. Setelahnya, tubuh akan membuat kekebalan sendiri, dan jika terinfeksi kembali dengan virus HMPV, akan menyebabkan gejala yang cenderung lebih ringan.           

 

Apabila Anda atau anggota keluarga mengalami keluhan pernapasan yang semakin memberat, misalnya demam tinggi, batuk yang menetap, kesulitan bernapas, atau tampak penurunan kondisi secara umum, disarankan untuk segera konsultasi dengan dokter spesialis paru.
Kembali